Lonceng-lonceng Kuil

June 11, 2009 by isyss

Sebuah kuil dibangun di suatu pulau, tiga kilometr jauhnya dari pantai. Dalam kuil itu terdapat seribu lonceng. Lonceng-lonceng yang besar, lonceng-lonceng yang kecil, semuanya dibuat oleh pengrajin-pengrajin terbaik dunia. Setiap kali angina bertiup atau taufan menderu, semua lonceng kuil itu serentak berbunyi dan secara terpadu membangun sebuah simponi. Hati setiap orang yang mendengarkannya terpesona.

Tetapi selama berabad-abad pulau itu tenggelam di dalam laut; demikian juga kuil bersama dengan lonceng-loncengnya.

Menurut cerita turun-temurun lonceng-lonceng itu masih terus berbunyi, tanpa henti, dan dapat didengar oleh setiap orang yang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Tergerak oleh cerita ini, seorang pemuda menempuh perjalanan sejauh beribu-ribu kilometer. Tekadnya telah bulat untuk mendengarkan bunyi lonceng-lonceng itu. Berhari-hari ia duduk di pantai, berhadapan dengan tempat di mana kuil itu pernah berdiri, dan mendengarkan-mendengarkan dengan penuh perhatian. Tetapi yang didengarnya hanyalah suara gelombang laut yang memecah di tepi pantai. Ia berusaha mati-matian untuk menyisihkan suara gelombang itu supaya dapat didengar bunyi lonceng. Namun sia-sia. Suara laut rupanya memenuhi alam raya.

Ia bertahan sampai berminggu-minggu. Ketika semangatnya mengendor, ia mendengarkan orang tua-tua di kampong. Dengan terharu mereka menceritakan kisah seribu lonceng dan kisah tentang mereka yang telah mendengarnya. Dengan demikian ia semakin yakin bahwa kisah itu memang benar. Dan semangatnya berkobar lagi, apabila mendengar kata-kata mereka…….. tetapi kemudian ia kecewa lagi, kalau usahanya selama berminggu-minggu ternyata tidak menghasilkan apa-apa.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri usahanya. Barangkali ia tidak ditakdirkan menjadi salah seorang yang beruntung dapat mendengar bunyi lonceng-lonceng kuil itu. Mungkin juga legenda itu hanya omong kosongsaja. Lebih baik pulang saja dan mengakui kegagalan, demikian pikirnya. Pada hari terakhir ia duduk di pantai pada tempat yang paling disayanginya. Ia berpamitan kepada laut, langit, angina serta pohon-pohon kelapa. Ia berbaring di atas pasir, memandang langit, mendengarkan suara laut. Pada hari itu ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia pun menemukan suara yang lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu tenggelam dalam suara itu, sehingga ia hamper tidak menyadari dirinya lagi. Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalm hatinya.

Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya! Dentang bunyi satu lonceng disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi, dan oleh yang lain lagi,…………… dan akhirnya seribu lonceng dari kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang agung berpadu. Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.

Aku Memotong Kayu

June 11, 2009 by isyss

Ketika seorang guru Zen mencapai penerangan budi, ia menulis baris-baris berikut ini untuk memperingatinya:

‘ wahai keajaiban yang mengagumkan: Aku memotong kayu! Aku menimba air di sumur!’

Bagi kebanyakan orang, tidak ada sesuatu yang mengagumkan dalam perbuatan sehari-hari seperti menimba air dari sumur atau memotong kayu. Sesudah penerangan budi sebetulnya tidak ada sesuatu pun yang berubah. Segala sesuatu tetap sama. Hanya saja sejak saat itu hatimu penuh rasa kagum. Pohon masih tetap pohon. Orang-orang masih tetap sama seperti dulu, demikian juga engkau. Kehidupan berjalan terus, tiada bedanya. Mungkin kamu masih pemurung atau pemarah, penuh pertimbangan atau gegabah, sama seperti sebelumnya. Tetapi ada satu perbedaan besar: sekarang semuanya itu kau lihat dengan mata yang berbeda. Engkau semakin terlepas dari semuanya. Dan hatimu penuh dengan rasa kagum.

Ikan Kecil

June 11, 2009 by isyss

“Maaf kawan,” kata seekor ikan laut kepada seekor ikan yang lain.”Anda lebih tua dan lebih berpengalaman daripada saya. Dimanakah saya dpat menemukan laut? Saya sudah mencarinya dimana-mana tetapi sia-sia saja!”

“Laut,” kata ikan yang lebih tua,”adalah tempat kau berenag sekarang ini”

“Haa? Ini hanya air saja! Yang kucari adalah laut,” sangkal ikan yang muda dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya di tempat lain.

Ikan kecil berhentilah mencari! Tidak ada yang perlu dicari. Heninglah sebentar, bukalah matamu dan lihatlah! Engkau tak mungkin lagi keliru.

Seekor Kera Menyelamatkan Ikan

June 11, 2009 by isyss

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku kepada seekor kera, ketika aku melihatnya sedang mengangkat ikan dari air dan meletakkannya di atas dahan sebatang pohon.
“Kuselamatkan dia, agar jangan mati tenggelam,” jawab kera.

Yang bagi seseorang merupakan makanan, bagi yang lain menjadi racun.

Matahari membuat burung garuda bisa melihat, namun membutakan mata burung hantu.

Dengarkah Engkau?

April 16, 2009 by isyss

Apakah kita akhirnya harus berpisah?
Apakah kita harus saling menghapuskan satu sama lain dalam ingatan?
Bagaimana aku dapat menempuh kehidupan dengan menahan luka mendalam atas cinta yang diberikan pada ku.
Meskipun setiap hari aku hidup dengan hati yang kosong akibat rasa rindu yang pahit,
aku sama sekali tidak menyesal pernah mencintaimu.
Saat aku merasa rindu sekali padamu sampai-sampai menjadi gila,
aku hanya menangis tanpa diketahui orang lain.
Jangan melupakan.., kau.., jangan melupakan bahwa
aku senantiasa berada di sisimu.
Aku mencintaimu. Apakah kau sekarang mendengarkan ungkapanku?

Meskipun kau tidak bisa kembali kepadaku, namun kita belum berpisah,
karena kau sekarang pergi untuk kembali lagi kepada ku kapan saja.

Saat aku merasa rindu sekali pada mu sampai-sampai menjadi gila,
aku hanya menangis tanpa diketahui orang lain.
Jangan melupakan.., kau.., jangan melupakan bahwa
aku senantiasa berada di sisi mu.
Aku mencintai mu. Apakah kau sekarang mendengarkan ungkapan ku?

Aku senantiasa menantikanmu meskipun kau dulu melupakanku.
Karena aku mencintai mu, aku lebih mencintai mu daripada kamu sendiri.
Aku akan membawa air mata dan juga rasa sepiku.
Jangan menangis, kau, jangan menangis meskipun dunia membuat mu sedih.
Aku mencintai mu. Apakah kau sekarang mendengarkan ungkapan ku?

Hanya Kau

April 16, 2009 by isyss

Hanya Kau
Hanya kau yang membuatku tersenyum.
Hanya kau yang melindungiku.
Hanya kau, kau lebih berkilau daripada permata.
Kau lebih cerah daripada sinar matahari
Hatimu lebih luas daripada laut.
Hanya kau, hanya kau yang membuatku hidup.

Untuk bertemu denganmu
ku nampaknya berputar-putar bagai bintang di tempat yang jauh.
Tolong berikan cintamu yang tidak akan sirna
seperti matahari yang panas itu
hanya dengan cinta.
Meskipun aku memberikan sedikit cinta,
Namun kau memberikan cinta yang berlimpah-limpah…
Hanya kau satu-satunya orang yang dapat membahagiakanku.

Matamu berkilau seperti bintang.
Bibirmu dan dua tanganmu… tidak ada yang tidak cantik.
Kita semakin mirip satu sama lain.
Kita hanya memberikan rasa bahagia satu sama lain.
Aku ingin menyampaikan suatu ungkapan kepadamu.

Apakah aku pernah melontarkan ucapan terima kasih selama kita berpacaran?
Aku hanya merasa bersalah kepadamu.

Tolong berikan cintamu yang tidak akan sirna
seperti matahari yang panas itu
hanya dengan cinta.
Meskipun aku memberikan sedikit cinta,
Namun kau memberikan cinta yang berlimpah-limpah…
Hanya kau satu-satunya orang yang dapat membahagiakanku.

Meskipun ku berikan semua kehidupanku kepadamu,
aku sama sekali tidak menyesal.
Hanya kau, hanya kaulah alasan kehidupanku.

Hari Kerinduan

April 16, 2009 by isyss

Pada hari aku ingin melihat mu

Aku melepaskan mu tanpa rasa ragu-ragu.Meskipun aku sudah ratusan kali menghilangkan mu dari hatiku,yang tinggal hanya rasa menyesal saja. Seperti itulah, aku meninggalkan mu. Seperti orang bodoh, aku kurang mengenal mu. Jantung ku terus berdebar-debar seperti hari pertama aku melihat mu.

Pada hari aku ingin melihat mu, pada hari air mataku berlinang, pada hari jantungku berdebar-debar, dan pada hari aku merasa rindu pada mu aku tanpa sadar menekan tombol nomor telpon mu dan aku rindu sekali pada mu.

Kebetulan aku mendengarkan kabar tentang mu. Entah kau juga terkadang merasa rindu padaku atau tidak? Situasi kita banyak dirubah, maka kenang-kenangan juga menjadi bintang.

Pada hari aku ingin melihat mu, pada hari air mataku berlinang, pada hari jantungku berdebar-debar, dan pada hari aku merasa rindu pada mu aku tanpa sadar menekan tombol nomor telpon mu dan aku rindu sekali pada mu.

Ketika berdasarkan ungkapan terima kasih, ungkapan minta maaf dan ungkapan cinta padaku, dengan hati yang kurang mengekang waktu yang tak bisa dikembalikan, memanggil mu, aku merasa sangat rindu sekali pada mu.

Ketika aku membuka mata, yang kulihat hanya engkau. Kenang-kenangan pada hari pertama kita bertemu, terpancar dari kaca. Apakah aku bisa melihat mu lagi? Pada hari aku ingin melihat mu

Pada hari rasa rindu berlimpah-limpah, pada hari kau terasa menjadi bagian hidupku pada hari aku ingin menangis dan pada hari hatiku sakit, aku tanpa sadar menekan tombol nomor telepon mu. Aku rindu sekali pada mu.

Ketika berdasarkan ungkapan terima kasih, ungkapan minta maaf dan ungkapan cinta padaku, dengan hati yang kurang mengekang waktu yang tak bisa dikembalikan, memanggil mu, aku merasa sangat rindu sekali pada mu.

Dasar Kebahagiaan Ada Dalam Semangkuk Bubur

March 19, 2009 by isyss

Berasnya adalah beras ketan, kualinya adalah kuali tanah liat, apinya berasal dari batu bara. Tiap hari subuh jam 4.30, pria ini menyulut api. Dalam kuali diisi air, untuk merendam beras yang telah dicuci. Menunggu air mendidih, beras dimasukkan. Menggunakan api besar memasak selama 10 menit. Setelah itu dirubah menjadi api kecil untuk direbus. Pria itu di pinggir kompor sedang membungkuk, menggunakan gayung mengaduk-aduk dengan perlahan-lahan.
Setengah jam kemudian, pria tersebut dengan satu tangan membawa semangkuk bubur putih panas yang masih mengepulkan asapnya, tangan yang lain membawa sepiring sayur asin yang telah disiram dengan minyak wijen. Masuk ke dalam kamar tidur, memanggil istrinya untuk bangun.
Wanita itu membalikkan badan, mulutnya menggumamkan sesuatu dan tidur lagi. Pria itu mendengarkan suara dengkur istrinya yang sedang lelap. Dia tidak tega untuk memanggil lagi. Duduk dipinggir ranjang, mengawasi arloji dan melihat ke wajah istrinya , lalu melihat lagi ke arloji. Wanita itu mendadak meloncat keluar dari ranjang. Melihat arloji, tergesa-gesa mengenakan pakaian dan turun dari ranjang, sambil berkata “Sudah terlambat, mengapa tidak membangunkan saya?” Suaminya menyajikan bubur putih dan sayur asinnya sambil berkata,”Jangan cemas, masih ada waktu, makanlah buburnya dulu.”

Buburnya adalah bubur putih polos, tanpa ada tambahan daging ayam atau pun telur ayam. Bubur semacam ini, menjadi sarapan pagi istrinya selama 5 tahun.

Ketika pria dan wanita ini menikah, tidak ada uang untuk pesta perkawinan, kedua insan ini hanya meletakkan tikar mereka masing-masing menjadi satu. Beginilah sudah jadi sekeluarga.

Pada saat malam pengantin, pria ini membawakan semangkuk bubur polos. Buburnya putih bersih, di bawah sinar lampu memancarkan cahaya yang berkilau. Pria itu berkata :”Lambungmu tidak baik, banyak makan bubur dapat menjaga maag.” Dimakanlah bubur itu oleh istri-nya. Aroma sedap khas bubur, tidak hanya membuat lambungnya hangat, namun juga hatinya.

Mereka sama-sama bekerja di satu pabrik. Si wanita sepanjang tahun bekerja di pagi hari, yang pria sepanjang tahun bekerja pada malam hari. Setiap jam empat subuh sang suami pulang dari kerja. Sedang istrinya masuk jam setengah enam pagi. Waktu mereka untuk bersama pendek sekali hanya sekitar 1,5 jam.

Pulang dari kerja, hal pertama yang dikerjakan oleh si pria adalah menyulut api, mengisi kuali. Pria ini hanya bisa memasak bubur polos. Namun semangkuk bubur polos ini, ternyata telah memberi gizi kepada si wanita hingga air mukanya merah, cantik bagaikan bunga.

Suatu hari, pabrik mengalami kerugian dan si pria terkena PHK. Akan tetapi bagi mereka kehidupan ini masih harus dilanjutkan. Pria ini mengeluarkan uang tabungannya yang sangat sedikit sedangkan istrinya menjual cincin emas warisan ibunya. Mengumpulkan uang membuka satu toko kelontong. Satu mangkuk, satu buah sapu, satu teko air. Keuntungannya tidaklah banyak. Tetapi si pria ini mengerjakan dengan sepenuh hati. Setelah si wanita pulang dari kantor, juga membantu mengurusi toko. Ketika tidak ada pembeli, pria dan wanita ini duduk diantara setumpuk mangkuk, kuali, gayung serta ember, dengan bahagia mereka berandai-andai tentang masa depan.

Si pria berkata:”Setelah ada duit, toko cabang akan saya buka dimana-mana.” Istrinya menyahut,”Waktu itu saya juga tidak perlu kerja lagi, setiap hari di rumah membuat beraneka ragam makanan untukmu.” Pria itu berkata,”Mana perlu dirimu memasak, ingin makan apa, kita langsung pergi ke restoran saja.” Dengan manja istrinya bilang,”Tidak, saya selalu ingin makan masakan bubur polosmu…” Pria ini langsung merangkul pundak si wanita, matanya agak membasah.

Pria ini masih saja setiap hari bangun dari tidur tepat pukul 4.30 subuh, menyulut api memasak bubur. Sambil memasak, memikirkan dalam toko sedang kekurangan barang apa. Kadang kala konsentrasinya terpecah. Buburnya hangus di dasar kuali, kadang pula jika ia terlalu lelah dan mengantuk, buburnya meluber keluar dari kuali. Suatu hari istrinya bangun pagi hari. Bubur di atas kompor sedang mendidih mengeluarkan buih ombak. Sedangkan suaminya tidur terlelap dengan kepala di topangkan di atas lutut. Dengan perlahan dan hati-hati si istri memeluk kepala suaminya, hatinya merasa sakit bagaikan ditarik-tarik.

Sejak saat itu, wanita ini menolak dengan tegas jika suaminya ingin memasakkan bubur untuk dirinya. Karena ia melihat si suami sungguh terlalu lelah.

Perdagangan si pria kian hari kian lancar, sampai pada tahun ke tujuh, supermarket cabangnya sungguh telah buka dimana-mana. Si wanita sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Mereka telah membeli sebuah rumah besar, dapurnya dilengkapi dengan sangat indah dan unik, yang kurang hanya bau asap api. Karena waktu untuk pulang makan si pria ini, semakin lama semakin sedikit. Dia selalu sibuk, terlalu banyak jamuan makan malam, kadang dalam satu malam ia harus menghadiri empat jamuan makan malam. Mula-mula wanita ini menggerutu, tapi si pria bilang,”Bukankah semua ini demi keluarga? Bukankah semua ini agar kamu bisa hidup lebih nyaman?” Akhir-nya si wanita capai sendiri, lambat laun juga sudah terbiasa.

Wanita ini sudah sangat lama sekali tidak pernah makan bubur polos.
Suatu hari, mendadak pria ini diberitahu agar menghadiri pemakaman dari seorang temannya. Dia heran, mengapa beberapa hari lalu temannya ini masih baik-baik saja, hari ini orangnya telah tiada? Di dalam rumah duka, dia melihat istri temannya ini. Yang dulunya sangat cantik dan anggun, dalam semalam menjadi pucat, lesu dan tua. Dia menangis tersedu-sedu. Dalam mulutnya menggumamkan kata-kata:”Siapa yang akanmengantarku kerja dan menjemputku pulang kerja? Siapa yang akan menalikan sepatu untukku ?”

Si pria itu merasa sesak nafasnya, terpikirkan akan istrinya. Sekilas terkenang kebiasaannya dulu di pagi hari, memasakkan bubur untuk istrinya, terpikir juga olehnya ketika istrinya menerima semangkuk bubur polos itu, matanya memancarkan sinar kebahagiaan dan kepuasan.

Si pria ini bergegas pulang ke rumah. Membuka pintu, melihat istrinya yang sedang meringkuk tidur di atas sofa. Televisi masih menyala, home theater juga masih menyala. Di atas meja ruang tamu berserakan penuh dengan berbagai jenis majalah mode. Pria ini berlutut di depan sofa, tangannya dengan perlahan membelai rambut wanita ini. Air muka wanita ini suram, di dalam kerutan-kerutan halus, wajahnya telah tertulis penuh kehampaan.

Dia mengambil selimut untuk menyelimuti wanita ini. Mendadak wanita ini terjaga dari tidurnya. Melihat si pria, wanita ini mengusap-usap matanya. Setelah memastikan itu adalah suaminya, raut wajahnya segera memerah. Wanita ini bergegas untuk berdiri. “Kamu mungkin belum makan, akan saya buatkan….” Si pria tiba-tiba memeluknya dari belakang,”Tidak, biarkan saya yang memasakkanmu bubur polos.” Hampir setengah hari wanita ini tidak mengeluarkan sepatah kata. Ada tetesan air mata hangat, yang menetes di tangan suaminya.

Hari itu, si pria sambil memasak bubur, dia berpikir,”Sebenarnya beraneka macam variasi produk bubur, tidak bisa me-ninggalkan bubur polos sebagai dasarnya. Dan segala kebahagiaan yang ada hanyalah di dasari oleh bubur polos, selain itu hanyalah sebagai penyedap.”

Manusia Kuat

March 4, 2009 by isyss

Ada kekuatan di dalam cinta,

Orang yang sanggup memberikan cinta adalah

orang yang kuat

Karena ia bisa mengalahkan keinginannya

Untuk mementingkan diri sendiri.

Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan,

Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat

Karena ia tidak pernah terlarut dengan

tantangan dan cobaan.

Ada kekuatan di dalam kedamaian diri

Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah

orang yang kuat

Karena ia tidak pernah tergoyahkan

Dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan di dalam kesabaran,

Orang yang sabar adalah orang yang kuat

Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu

Dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada kekuatan di dalam kemurahan,

Orang yang murah hati adalah orang yang kuat

Karena ia tidak pernah menahan mulut dan

tangannya

Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan di dalam kebaikan,

Orang yang baik adalah orang yang kuat

Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang

baik bagi semua orang.

Ada kekuatan di dalam kesetiaan,

Orang yang setia adalah orang yang kuat

Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan

pribadi

Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.

Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan,

Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat

Karena ia bisa menahan diri untuk tidak

membalas dendam.

Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,

Orang yang bisa menguasai diri adalah orang

yang kuat

Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu

keduniawian.

__________________________________________________________


Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki

cukup Kekuatan untuk mengatasi segala

permasalahan

dalam hidup ini?

Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga.

Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan

melebihi kekuatan kita.

Pilihan dalam Hidup

March 4, 2009 by isyss

Pilihlah untuk mencintai……bukan membenci

Pilihlah untuk tertawa……..bukan menangis

Pilihlah untuk mencipta…….bukan merusak

Pilihlah untuk gigih bertahan …..bukan menyerah

Pilihlah untuk memuji……..bukan bergosip

Pilihlah untuk untuk menyembuhkan ……bukan melukai

Pilihlah untuk memberi ………bukan mencuri

Pilihlah untuk bertindak……..bukan menunda-nunda

Pilihlah untuk tumbuh…….bukan membusuk

Pilihlah untuk berdoa…….bukan menyumpahi

Pilihlah untuk hidup………bukan mati

Pilihlah untuk bangkit………bukan terpuruk

Pilihlah untuk menghadapi……..bukan menghindar

Pilihlah untuk setia………bukan berkhianat

Pilihlah untuk bertahan……….bukan menyerah