Archive for June, 2008

Ketika Cinta Terurai Menjadi Perbuatan

June 28, 2008

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu.

Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, “Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri.” Tapi lelaki tu malah menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi.”

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka.
Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa.
Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, “Aku memutuskan untuk mencintainya.

Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.”
Begitulah cinta ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati…terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…

Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya.
Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan
dan tidak nyata… Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati di sini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.

Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti.

Cinta yang tidak terurai jadi perbuatan adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita
Jika kita memiliki kesempatan utk menjadi seseorang yg LUAR BIASA ,Kenapa kita memilih utk menjadi biasa-biasa saja? Bukankah hidup ini hanya sekali saja? Pastikan diri kita BERGUNA untuk orang banyak.”

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Untukku…

June 8, 2008

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Untukku…

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang

seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak,

Georgia,Amerika.

Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik,sayangnya dia

tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan

ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu

memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York .

Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara,

ke kota besar, ke hidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia

memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex,

gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang.

Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu

dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat

naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan

pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia

merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan

untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa

menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia

berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin

sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan

menulis, ‘Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau

masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku

kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya

pohon beringin yang berada di pusat kota . Apabila aku lewat dan tidak

menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan

mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju

Miami . Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima

surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima

suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau

mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami , Florida

yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup.

Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu,

‘Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan. ..kita mesti lihat apa

yang akan terjadi… Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat

kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin

mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di

matanya…Dia tidak melihat sehelai pita kuning…Tidak ada sehelai pita

kuning…. Tidak ada sehelai….. .Melainkan ada seratus helai pita-pita

kuning….bergantungan di pohon beringin itu…Ooh… seluruh pohon itu

dipenuhi pita kuning…!!! !!!!!!!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika.

Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini.

Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, ‘Tie a Yellow

Ribbon Around the Old Oak Tree’, dan ketika album ini di-rilis pada

bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973. Sebuah

lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa

melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut,… If God always forgive

you,.. will you forgive the others ? .. think wisely .. !!!

Hebatnya Cinta

June 6, 2008

Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas?

Pernahkah kau merasakan bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai meski kamu tahu ia takkan pernah peduli, ataupun ia peduli dan mengerti tapi ia tetap pergi……………..?

Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bersama, tertawa kala berpisah ?

Aku pernah menangis kala bahagia, karena ku takut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja……..

Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena ku takut aku akan kehilangan dia suatu saat nanti…….

Dan aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi cinta tak harus memiliki dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.

Aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga.

Jika Kamu

June 2, 2008

Jika kamu selalu mengatakan kamu tdk tahan dgn pekerjaanmu,
Kamu mungkin akan kehilangan pekerjaanmu. Jika kamu selalu mengatakan kamu tdk tahan
dgn badanmu, kamu mungkin akan sakit. Jika kamu selalu mengatakan kamu tdk suka mobilmu, kamu mungkin akan kecurian /mobilmu tidak bisa bergerak. Jika kamu selalu mengatakan kamu kalah, tebak apa yang terjadi ??? Kamu akan selalu kalah. Jika kamu selalu mengatakan kamu tidak bisa mempercayai laki2x /
perempuan, kamu akan selalu menemukan dalam hidupmu
seseorang yg menyakiti dan mengkhianati dirimu. Jika kamu selalu mengatakan kamu tdk bisa mendapatkan pekerjaan, kamu akan selalu menjadi pengangguran. Jika kamu selalu mengatakan kamu tdk akan pernah bisa menemukan
seseorang untuk mencintaimu atau mempercayaimu, Pemikiranmu akan lebih menarik pengalaman-pengalaman untuk membenarkan apa yang kamu percayai. Jika kamu selalu mengatakan tentang perceraian
/ pemutusan hubungan, maka kamu akan berakhir dengan itu.

Rubahlah pemikiranmu dan perbincanganmu ke hal2x yg lebih positif dan disertai kekuatan takdir, harapan, cinta, dan tindakan.
Jangan takut untuk mempercayai untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan dan harapkan.
Hati-hatilah dengan pemikiranmu, mereka menjadi perkataan.
Hati-hatilah dengan perkataanmu, mereka akan menjadi tindakan.
Hati-hatilah dengan tindakanmu, mereka akan menjadi kebiasaan.
Hati-hatilah dengan kebiasaanmu, mereka akan menjadi karakter.
Hati-hatilah dengan karaktermu, Karena itu akan menjadi takdirmu.

Dalam setiap menit kamu melakukan kurang dari yang kamu harapkan,
Kamu akan mendapatkan lebih kurang dari yang kamu lakukan.

Dalam pencarian dirimu, kamu akan menemukan kebenaran.
Dalam pencarian kebenaran, kamu akan menemukan cinta.
Dalam pencarian cinta, kamu akan menemukan kehidupan.
Dalam pencarian kehidupan, kamu akan menemukan kekuatan.

Burung dan Kakek

June 2, 2008

Alkisah, seorang kakek di Baghdad
pergi ke berbagai negeri mencari
kebahagiaan. Di sebuah oase, dia
melihat seekor burung pipit yang
sangat indah. Dia berhasil
menangkapnya. Burung ini ternyata bisa
bicara. “Kakek, tolong lepaskan saya,
nanti permintaan kakek akan
saya penuhi,” kata si burung.
“Baik, kalau dapat menjawab pertanyaan
saya, kamu saya lepaskan,”
kata si kakek. “Di mana, kapan, dan
bagaimana memperoleh kebahagian?”
“Pertama”, jawab si burung, “jangan
percaya siapa pun kecuali Tuhan.
Kedua, jangan berharap sesuatu yang
kamu tak akan sanggup mendapatkannya.
Ketiga, jangan sesali masa lalumu”.

Merasa puas, si kakek melepaskan
burung itu. Tapi, begitu dilepas, si
burung meledek kakek tua itu. “Dasar
kakek bodoh,” kata hewan itu.
“Sebetulnya, kalau kakek tidak
melepaskan saya, saya akan memberikan
telur emas.”
Si kakek sangat menyesal dan mengejar
burung itu. Hewan ini lalu hinggap di
ranting pohon cemara. Kakek yang
penasaran ini lantas berusaha meraihnya
dan… dia terjatuh lalu pingsan.

Ketika kakek ini siuman, burung
tersebut mendekatinya. “Dasar manusia,
baru beberapa menit saya beri petunjuk
meraih kebahagiaan, kamu sudah lupa
lagi. Ingat Kek, apa yang saya katakan
tadi. Kakek jangan percaya pada siapa
pun kecuali Tuhan! Saya ini burung,
mengapa Kakek percaya saya?”
“Kedua, tadi saya katakan jangan
berharap pada sesuatu yang kamu tidak
dapat meraihnya. Lihat akibatnya Kakek
jatuh dan pingsan.”
“Ketiga,” lanjut si burung, “jangan
sesali masa lalu. Mengapa Kakek
menyesal? Bukankah apa yang kakek
kerjakan, yakni melepaskan saya, sudah
terjadi?”

Sambil terbang mengangkasa, burung ini
mengaku malaikat utusan Tuhan
untuk memberikan pelajaran kepada umat
manusia. Semoga, kita bukanlah
kakek bodoh yang menyesali masa lalu
kita.

Saringan Tiga Kali

June 2, 2008

Di jaman Yunani kuno, Dr. Socrates adalah seorang terpelajar dan
intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan
kebijaksanannya yang tinggi. Suatu hari seorang pria berjumpa dengan
Socrates dan berkata, “Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar
mengenai salah seorang teman anda?”

“Tunggu sebentar,” jawab Dr. Socrates. “Sebelum memberitahukan saya
sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut
dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali.”

“Saringan tiga kali?” tanya pria tersebut. “Betul,” lanjut Dr. Socrates.
“Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin
merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring
apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan
Tiga Kali.

Saringan yang pertama adalah KEBENARAN.

Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah
benar?”

“Tidak,” kata pria tersebut,”sesungguhnya saya baru saja mendengarnya
dan ingin memberitahukannya kepada anda”. “Baiklah,” kata Socrates. “
Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.”

Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu : KEBAIKAN

Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah
sesuatu yang baik ?”

“Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk”.
“Jadi,” lanjut Socrates, “anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang
buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar.

Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu: KEGUNAAN
Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya
tersebut akan berguna buat saya ?”

“Tidak, sungguh tidak,” jawab pria tersebut.

“Kalau begitu,” simpul Dr. Socrates,” jika apa yang anda ingin
beritahukan kepada saya… tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak
berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya ?”

~~~

Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak
bersalah, dan kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati
seseorang, keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali. Jadi sebelum
berbicara, gunakanlah Saringan Tiga Kali.

Tulang Rusuk

June 2, 2008

Ce : Yang paling kamu cintai di dunia ini siapa
Co : Kamu dong !!!
Ce : Menurut kamu, aku ini siapa ?
Co : (berpikir sejenak lalu menatap Ce dengan pasti) Kamu tulang rusukku !!! Kata Kitab Suci, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua Pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati …”

Setelah menikah, pasangan itu mengalami masa yang indah dan manis
Untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam
Kesibukan masing – masing dan kepenatan hidup yang ada. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar Dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari pada Akhir sebuah pertengkaran Ce lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak “Kamu nggak cinta lagi sama aku !”.

Co sangat membenci ketidak dewasaan Ce dan secara spontan balik berteriak “Aku menyesal kita menikah ! Kamu ternyata bukan tulang rusukku !!!”

Tiba – tiba Ce menjadi terdiam dan berdiri terpaku untuk beberapa
saat. Co menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan, tetapi seperti air yang telah tertumpah tidak mungkin untuk diambil kembali.
Dengan berlinang air mata, Ce kembali kerumah dan mengambil barang – barangnya, bertekad untuk berpisah / bercerai.

“Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah
dan mencari pasangan sejati masing – masing.”

Tanpa terasa Lima tahun telah berlalu.

Co tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Ce.
Ce pernah ke luar negeri tetapi sudah kembali. Dia pernah menikah dengan
seorang asing dan bercerai. Co agak kecewa bahwa Ce tidak menunggunya
kembali. Dan di tengah malam yang sunyi dia meminum Kopinya dan merasakan sakit di hatinya. Tetapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia amat merindukan Ce.

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat dimana
banyak terjadi banyak pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan
Hanya oleh sebuah dinding pembatas.

Co : Apa kabar ?
Ce : Baik … apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang ?
Co : Belum.
Ce : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut. Aku akan
kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor
telepon kita, tidak ada yang berubah.

Ce tersenyum manis, lalu berlalu.

“Good bye ….”

Semingga kemudian dia mendengar bahwa Ce adalah salah satu korban Menara WTC.

Malam itu, sekali lagi, Co mereguk kopinya dan kembali merasakan
Sakit di hatinya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Ce,
Tulang rusuknya sendiri yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

—————–
“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling
kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”

Sesuatu Yang Tak Dapat Diubah

June 2, 2008

Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal
di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yang
memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi
orkestra penuh.

Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat
dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan
memainkan lagunya. Kejadian yang sangat mengejutkan
senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya
meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika
para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar
dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak,
“Hebat, hebat.”

Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh
mereka untuk duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia
dapat bermain dengan satu senar. Paganini memberi
hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada
dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari
lagunya itu.

Dengan mata berbinar dia berteriak, “Peganini dengan
satu senar.” Dia menaruh biolanya di dagunya dan
memulai memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut
dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum
pada kejadian ini.

~~~

Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran,
kekecewaan dan semua hal yang tidak baik. Secara
jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak
waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus
dan segala sesuatu yang tidak dapat kita ubah.

Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang
putus dalam hidup Anda? Apakah senar terakhir nadanya
tidak indah lagi? Jika demikian, saya ingin
menganjurkan jangan melihat ke belakang, majulah
terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mainkanlah
itu dengan indahnya.

RAUTAN MEJA KAYU

June 2, 2008

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain
itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan
orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya
buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang
pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata
yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap
jatuh Ke bawah.

Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua
ini. “Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. “Aku sudah bosan
membereskan semuanya untuk pak tua ini.”

Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut
ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya
menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan
mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak
sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat
keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia
suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata
yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan
makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam,
sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan
kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”.

Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk
makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat
kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak
mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi
mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti,
ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada
piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini,
mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut
untuk membuat meja kayu.

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu
mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan
selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain
dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa
kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa”
yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa
depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar,
bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa
depan.

Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.

Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.

Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.

Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah.

Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.

Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.

Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.

Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.

Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.

Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.

Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari
cinta di seluruh dunia.

Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka
diistilahkan oleh Khalil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan
anak-anak dalam menapaki jalan masa depannya. Tentu hari ini harus lebih
baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu
kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari
kita….

Pasangan dari Tuhan………

June 2, 2008

Bertahun2 yg lalu, saya berdoa kepada Tuhan memberikan
saya pasangan, “Engkau tidak memiliki pasangan karena
engkau tidak memintanya”, Tuhan menjawab.
Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan, saya
menjelaskan kriteria pasangan yg saya inginkan. Saya
menginginkan pasangan yg baik hati, lembut, mudah
mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan
sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar,
humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan
kriteria pasangan tersebut secara fisik yg selama ini
saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan
daftar kriteria yg saya inginkan dalam pasangan saya.
Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya,
“HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yg engkau
inginkan.” Saya bertanya, “Mengapa Tuhan?” dan Ia
menjawab, “Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah
adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yg Aku lakukan
adalah benar.” Aku bertanya lagi, “Tuhan, aku tidak
mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yg aku
pinta dariMu? ” Jawab Tuhan, “Aku akan menjelaskannya
kepadaMu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidak
benaran bagiKu untuk memenuhi keinginganmu karena Aku
tidak dapat memberikan sesuatu yg bukan seperti
engkau. Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan
seseorang yg penuh dengan cinta dan kasih kepadamu
jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan
seseorang yg pemurah tetapi engkau masih kejam, atau
seseorang yg mudah mengampuni; tetapi engkau sendiri
masih suka menyimpan dendam, seseorang yg sensitif,
namun engkau sendiri tidak….”
Kemudian Ia berkata kepada saya, “adalah lebih baik
jika AKu memberikan kepadamu seseorang yg Aku tahu
dapat menumbuhkan segala kualitas yg engkau cari
selama ini daripada membuat engkau membuang waktu
mencari seseorang yg sudah mempunyai semuanya itu.
Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu,
dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam
dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.
Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan
jangka panjang. Pernikahan adalah tempat di mana
engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri
dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu
sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yg
lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yg solid. Aku
tidak memberikan pasangan yg sempurna karena engkau
tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yg dapat
bertumbuh bersamamu……….