Seseorang yang bangga akan halaman rumahnya yang berumput indah, menjadi kecewa melihat tumbuh suburnya bunga-bunga tapal kuda. Semua usaha sudah dicobanya untuk membasmi bunga-bunga itu, namun mereka tetap saja merajalela.
Akhirnya ia menulis surat kepada Departemen Pertanian. Satu per satu ia menyebutkan semua usaha yang telah dicobanya dan mengakhiri suratnya dengan pertanyaan: ‘Apa yang semestinya kulakukan sekarang?’ Tidak lama kemudian datanglah surat balasan: ‘Kami menganjurkan supaya anda berusaha menyenangi bunga tapal kuda’
Aku juga punya halaman rumput yang kubanggakan; dan pikiranku juga diganggu oleh bunga tapal kuda, maka aku berusaha keras untuk memberantasnya. Oleh karena itu, berusaha menyukainya sungguh tidak mudah. Aku berusaha berbicara dengan mereka setiap hari. Dengan akrab, dengan ramah. Namun mereka diam seribu bahasa. Mereka masih menyimpan dendam atas peperangan yang pernah kulancarkan melawan mereka. Rupanya mereka juga masih sedikit curiga akan alasan-alasan yang ku kemukakan. Tetapi tidak lama kemudian mereka tersenyum kembali. Tidak bersitegang lagi. Malahan mananggapi kata-kataku. Segera saja kami menjadi sahabat baik.
Memang halaman berumputku jelek nampaknya. Tetapi tamanku segera menjadi sangat indah berseri.
“Satu-satunya jalan untuk keluar adalah dengan melaluinya, Satu-satunya cara untuk menyembuhkan kepedihan adalah dengan menerimanya.”